Tampilkan postingan dengan label Puisi Qusay. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi Qusay. Tampilkan semua postingan

Maruyama

Sendiri ku suka, saat tuntutan menyapa..
Apa kabar skripsi mu??..
Ah kau ini, hampir saja ku enggan mengingatnya.
Baiklah...
Sendiri disudut ruang kecil bertemankan laptop & guling.
Ya, suasana seperti itulah yg membersamaiku akhir-akhir ini.
Hendak menapaki jalan impian, berjalan perlahan diiringi merdunya suara batuk.
Uhuk...uhuk...
Lelah,
Jenuh,
Lapar,
Kantuk, dan
Malas selalu menyertai.
Terlebih saat ku paksakan isi kepala ini mengingat data yg hilang.
Ah rasanya ingin segera mengakhiri semua ini.
Tapi ku sadar tak kan ada hasil kalau tidak ada perjuangan.
Ini belum seberapa, di depan sana masih ada tuntutan yang akan segera menyapa lagi.

Kejayaan Akarsari

Berjalan dihulu bukit pucuk umun
tertusuk bilahan bambu roboh
terpecahlah jalanan menghampar
mengawanglah kesadaranku
dan kini entah dimana

Ini tentang masalalu
Legenda yang berubah menjadi mitos
mitos bermetamorfosis menjadi dongeng
tenggelamlah kejayaan lampau

Religi sanghiang pernah berdengung
memuncaki khayangan mayapada
akarsari menjadi saksi
Dimana bakti para nagari

Nusantara Merana

Bukan hanya lingkaran hitam saja,
Tapi semua seperti terorganisir rapih
Seperti jaringan setan, kuat menakutkan
Pekatnya melampui hal paling gelap
Untuk membongkarnya butuh keberanian
Perjuangan panjang dan gigih
Konsisten dengan tujuan kebenaran
Pantang menyerah dan habis-habisan
Lantas siapakah yang mampu memutihkannya kembali?
#Indonesiaku berduka

Kkcl Membuat Mati Suri

kekuatannya seperti menghilang
raib tak terelakan, seper-sekian detik
satu kalimat telah membunuhku
nilainya tak berbekas

ragaku berputar seperti jarum jam
meledak bagai meriam
auranya bercampur baur
menjadikannya limbung

kehilangan lagi, ngeri tak terbantahkan,
buntu seperti kehilangan segala tujuan,
efeknya menyedot semua kekuatan,
kembali melakukan kesalahan,

Untuk Istri Ku Kelak

Jika rindu dimiliki setiap insan
tentulah kita akan saling merindui
kita tidak pernah mengenal akan takdir dan jodoh
mungkin sebelumnya kita saling mengenal atau tidak sama sekali

begitu mungkin, dan selalu ada kemungkinan
penguasa kita pemilik hati
selalu ada keajaiban, karena ialah
pembulak balik hati

Rembulan dibulan


ada titik lembut dari embun di dedaunan,
setiap tetesnya menumbuhkan ruhruh,
bagai kalimat-kalimat dari alam,
hadirmu laksana mutiara penyempurna keindahan,
dikalungkan pada leher kehidupan,
merasai hadirmu adalah kebahagiaan,


ada kemilaunya dirembulan memerah,
hiasan lingkaran kecil merimbuni baris,
menjayati diri pada purnama keemasan,
telah lahir masa kita berdua dipejalanan,
saat rindu kan bertemu dibawah langit berbintang,
menyejuki dirimu dibelahan hati.


#kerinduan_yang_berbuncah_40

Mimpi Dilembaran Emas

Langit yang gelap, seberapa besar dan lamakah aku mampu bertahan?
Hingga datang kabar baru tentang kegemilangan dari pelarian takdirku ini!
Aku masih saja meraba waktu untuk bisa menembusnya, 

Hingga datang seorang bidadari menemani kesendirian ditanah jawa ini...

Langit yang kelam, aku masih saja menengadah menatapmu, dalam pencarian. 

Kulipatkan kedua tanganku dikepala ini dalam kesunyian. 
Berharap sebuah meteor  berekor jingga jatuh dihadapanku.
Memberikan kabar akan mengharapkan kedatanagku...

Langit yang masih saja diam, akupun masih menatapmu,
Menyelesaikan mimpi yang pernah kutintakan dilembaran emas.
Hingga masanya tiba, giliran engkaulah ku renggut untuk diselesaikan.



#kerinduanyangberbuncah_38

Banten Dalam Kegelapan

Mengendapkan diri ditanah lama
diakar berumbi para leluhur ribuan tahun lalu
agraria terus dilembabi kakian akarsari
menopang kehidupan kebantahan selaksa surga

Bersilakan diri dicadas hamparan
merasai setiap hembusan jigayana
didengdangkan percikan air juga kalam
sukma menyempurna  pada alam

Dusun berdusun atap rumbia bebambu
memikuli cangkul dipematang sawah
diteriaki longlongan kerbau kongkorong
rimbun dikegelapan daun hijau

Masih terasa  peradaban lama tak belampu tak bermimpi
diimarjinalkan oleh modernisasi dinasti
sanghiang kini hanya menjadi simbol tak bertuah
tetua dengdek senyum diatas tunggul batu

Dipugari proyek bebisu
priyayi dibuat kalang kabut
digonjang ganjing politik kenistaan
jawara digerigi buayan kedudukan

Menghapus Kesendirian

Terbalut rindu disinggasana raja
mengigil menghunus sepi
bersama bayang menari
memejamkan perih kesendirian
menyulam dalam keterpakuan

ada rindu dibalik awan
ada senyum dibayang tudung
ada keindahan pesona pada wajahmu
ada hati yang terpaut pada cantikmu


#edisikerinduanyangberbuncah   | 27

Kuningan Merimbun Menapaki

Mengasah layang dibelantara
kuning kilap pada tiap bebambu
ribuan helai terhampar lesu
kering kecoklatan dirayapi

jiwamu kosong pucuk paham beragam
berupa aliran buku-buku bambu
menggurat nilai beradu
meroyong memingul satu-satu

rimbunan baris melangit
mengelai-helai diterpa angin
berdendang kesana kemari 
melukiskan purnama


#edisikerinduanyangberbuncah   | 26

Daun dan Cinta

daun, bibirmu tipis merah menua
liuk lekuk ditekuk cahaya
tubuhmu harum menggoda birama
cinta yang tidak bisa diterjemahkan
oleh setiap helai waktu yang rubah

daun, menatapmu membuat tergoda
senyum salam sapa begitu indah
pada aura muka cahaya
dibelai lembut titah mulia
dipadang pasang paling sempurna


#edisikerinduanyangberbuncah   | 25

Di Peluk Mu dI Pasir Putih

dimatamu ada lautan
beriak gelombang memadati tepian
gulungan ombaknya berlomba memenuhi
melewati ribuan waktu
menjadikannya mutiara disetiap kata

tak sanggup berlama-lama menatapmu
setiap detik menjadikannya cinta
membuat gairah memburu ku
membujur digaris lintang nafsu
cinta, membuatku cinta tiada tara

dilempari pada rindu
memegangi kokohnya karang
melepaskan sayup-sayup kasmaran
dipelukanmu diatas pasir putih
disucikan oleh kalimah Ilahi

#edisikerinduanyangberbuncah   |23